Jum'at, 31 Oktober 2014 | webmail | iSMS | login

 
 

Mencegah Gigi Keropos Pada Anak


06:34:15 / 26 July 2011

Gigi adalah salah satu alat bantu pencernaan, yang juga merupakan pintu masuk dari seluruh kuman-kuman dan bakteri dari luar tubuh. Oleh karena itu, kesehatan mulut dan gigi, sangat penting untuk dilakukan. Hanya saja, anak-anak sering mengalami berbagai keluhan, misalnya gigi berlubang, gusi berdarah dan juga gigi keropos.

Gigi keropos, menurut drg. Risqa Rina Darwita, Ph.D., sebenarnya bisa terjadi pada siapa saja. “Pada anak-anak, umumnya pada saat mereka masih memiliki gigi susu,” jelas Dosen di Fakultas Kedokteran Kesehatan Gigi Universitas Indonesia, Jakarta ini. Yang paling sering terjadi, keroposnya gigi balita, akibat banyaknya plak yang menumpuk akibat banyaknya sisa susu yang menempel pada gigi.

Anak-anak yang suka memakan makanan yang manis-manis atau permen, dan diperparah dengan kurangnya orangtua memperhatikan kebersihan gigi si kecil, menyebabkan gigi menjadi mudah berlubang bahkan keropos. “Gigi susu yang keropos ini, nantinya masih bisa diganti dengan gigi tetap.” Hanya saja pada beberapa anak yang telah mempunyai gigi tetap, ada yang tetap mengalami gigi keropos, meski rajin sikat gigi dan menghindari makanan yang manis-manis.

Kerusakan Struktur Gigi
Secara struktur, gigi terdiri dari mahkota gigi, akar gigi, dan leher gigi yang ditutupi oleh gusi. “Semua bagian rongga mulut tersebut, apabila tidak dipelihara dengan baik akan mudah terserang oleh penyakit,” terangnya. Terjadinya gigi keropos, lanjut Risqa, secara kedokteran disebut dengan Radang gigi Gangraena Pulpa atau Pulpitis.

Kekeroposan ini, terjadi akibat adanya kerusakan pada struktur gigi yang berdampak pada email (lapisan keras yang melindungi gigi) dan lapisan terluar dari gigi, yang terus menjalar pada lapisan dentin dan pulpa. Secara umum, gigi keropos bisa terjadi akibat beberapa sebab. “Timbunan plak dari makanan dan kurang asupan kalsium dan mineral, bisa mengakibatkan gigi keropos. Bahkan pada sebagian orang, gigi keropos juga bisa disebabkan oleh faktor keturunan,” ungkapnya lagi.

Umumnya, gigi keropos banyak disebabkan oleh adanya plak yang tidak dibersihkan. “Plak yang tidak dibersihkan dari lapisan luar gigi, akan menjadi tempat berkumpulnya mikroorganisme, dimana mikroorganisme tersebut akan mengeluarkan zat yang bersifat asam.” Plak terjadi akibat terlalu banyak mengkonsumsi makanan yang mengandung karbohidrat (gula dan makanan yang mengandung perekat), seperti roti, sereal, susu, soda, buah-buahan, kue, atau permen yang tersisa pada gigi.

Bakteria yang tinggal di dalam mulut akan mencerna makanan-makanan ini, dan merubahnya menjadi acids (asam). Bakteria, asam, sisa makanan dan air liur yang menyatu pada plak, akan menempel erat pada gigi. Asam yang dikeluarkan oleh plak, lama kelamaan akan mengikis lapisan lembut email pada gigi, dan menyebabkan timbulnya lubang pada gigi, yang disebut Calvities atau Caries. “Kekeroposan terjadi akibat zat asam yang menghancurkan jaringan lunak (misalnya gingiva).”

Mikroorganisme – salah satunya streptococcus Mutant – bersifat menghancurkan jaringan email, disamping itu mikroorganisme ini juga mendukung perubahan plak yang tidak dibersihkan, lama kelamaan bisa menjadi karang gigi. “Bila kondisi ini dibiarkan, maka kerusakan ini akan terus menjalar ke bagian dentin dan pulpa,” terangnya.

Bila kerusakan sudah mengenai dentin dan pulpa, apalagi bila sudah mengenai syaraf gigi yang menyebabkan gigi membusuk dan matinya syaraf pada gigi Gangraena atau Necrosis,” terangnya. Bila syaraf gigi mati, maka lambat laun gigi akan runtuh sedikit demi sedikit dan menyebabkan gigi menjadi keropos. “Matinya syaraf gigi, juga berarti hilangnya fungsi gigi.”

Unsur Penguat Gigi
Selain plak, gigi keropos juga bisa terjadi akibat kurangnya asupan fluor, yang bisa membantu gigi menjadi lebih kuat. “Saya pernah menemukan kasus dimana dalam satu masyarakat di daerah Kalimantan, mengalami gigi keropos,” ungkap Risqa. Dari penelitian diketahui, ini terjadi akibat kurangnya asupan fluor (mineral). “Mereka minum dari air tadah hujan, yang tidak mengandung fluor,” jelasnya.

Di lain pihak, gigi keropos pada anak-anak, bisa juga akibat adanya faktor keturunan. “Seorang ibu yang mempunyai gigi keropos, kemungkinan anaknya juga mengalami gigi keropos,” paparnya. Sebab gen yang ikut terbawa pada bayi, bisa jadi gen yang kurang mengandung mineral dan kalsium dan menyebabkan anak juga mengalami kekurangan kalsium. “Oleh karena itu, penting bagi ibu hamil untuk banyak mengkonsumsi kalsium dan mineral.”

Kebutuhan kalsium dan mineral, lanjut Risqa, memang sangat dibutuhkan untuk memperkuat email gigi. “Kebutuhan ini, sebenarnya bisa dicukupi dengan meminum air yang mengandung mineral, asupan gizi yang cukup – terutama vitamin D, dan menggosok gigi dengan pasta gigi yang mengandung fluor.” Vitamin D merupakan salah satu unsur pokok dalam metabolisme kalsium dan fosfor.

Jadi, usahakan anak-anak cukup mendapatkan vitamin D (dari sinar matahari pagi) setidaknya 10 mg per hari. Bila kebutuhan ini tidak terpenuhi, bisa jadi si kecil akan mengalami masalah pada penguatan struktur gigi, akibat adanya gangguan mineralisasi pada struktur tulang dan gigi. Sehingga serajin apapun si kecil menggosok gigi dan menghindari makanan yang manis-manis, ia tetap akan mengalami gigi keropos akibat kurangnya unsur yang bisa memperkuat gigi.

Hindari Pencabutan
Sebenarnya, gigi keropos bisa terjadi pada siapa saja. Umumnya, gigi keropos banyak terjadi pada orang yang telah berusia lanjut (Manula). Sebab pada manula, semakin lama tubuh semakin kurang dapat menyerap fluoride. Namun Risqa tidak menutup kemungkinan adanya anak-anak yang telah mengalami gigi keropos. “Kesehatan gigi, sangat dipengaruhi oleh kerajinan dan kedisiplinan anak dalam menggosok gigi,” tegasnya.

Pada anak-anak yang telah mempunyai gigi keropos, Risqa menyarankan untuk segera di bawa ke dokter gigi untuk diperiksa. “Pemeriksaan ini diperlukan untuk mengetahui penyebab mengapa gigi menjadi keropos.” Bila penyebab gigi keropos disebabkan adanya plak atau karang gigi, maka biasanya dokter akan menyarankan untuk melakukan pembersihan plak atau karang gigi tersebut. “Bila keroposannya masih dalam bentuk gigi berlubang, maka penambalan harus dilakukan di tempat yang berlubang.”

Penanganan gigi keropos, jelas Risqa, tidak selalu harus dilakukan dengan pencabutan – yang merupakan ketakutan paling besar bagi anak-anak. “Dalam penanganan gigi saat ini, pencabutan gigi merupakan alternatif yang paling terakhir.” Untuk memperbaiki gigi yang telah keropos, lanjutnya, sebenarnya bisa dilakukan dengan memberikan mahkota pada permukaan gigi. “Mahkota ini nantinya akan mengganti lapisan gigi yang telah keropos.”

Kecuali, bila gigi yang keropos tersebut sudah sangat parah karena mulai membusuk dan syarafnya sudah mulai mati (necrosis), mau tidak mau gigi tersebut harus dicabut. Gigi yang berlubang atau yang telah membusuk harus segera ditangani, tuturnya, sebab bila tidak akan mengganggu kesehatan – bukan saja pada kesehatan di sekitar mulut (seperti sariawan), tapi juga pada anggota tubuh lainnya.

Gigi merupakan gambaran dari kesehatan tubuh kita. Seseorang bisa saja terkena hipertensi, penyakit jantung atau lainnya, hanya karena ia memiliki gigi berlubang atau gigi yang telah membusuk. “Kesehatan tubuh, bisa diakibatkan oleh adanya gangguan pada gigi, begitu juga sebaliknya. Karena tubuh merupakan satu kesatuan, yang saling terkait dengan unsur tubuh lainnya. Jadi, jangan anggap sepele kesehatan gigi ya,” sarannya.

Tips Mencegah Gigi Keropos :
1. Gosoklah gigi sekurangnya dua kali sehari dengan pasta gigi yang mengandung fluoride. Terutama, setelah makan dan sebelum tidur.
2. Bila perlu, setiap seminggu sekali lakukan kumur-kumur dengan obat kumur yang bisa membantu mencegah terjadinya plak dan karang gigi.
3. Sikatlah gigi dengan baik dan benar, yaitu dengan menjangkau ke seluruh permukaan gigi dan sela-sela gigi.
4. Sikatlah gigi dengan tekanan yang sedang, tekanan yang terlalu keras akan mengakibatkan email gigi rusak, begitu juga bila terlalu lunak yang bisa menyebabkan gigi kurang bersih.
5. Kalau perlu, pergunakanlah dental floss atau benang gigi untuk membantu membersihkan sisa-sisa makanan yang terselip pada sela-sela gigi.
6. Makanlah makanan yang bergizi dan seimbang. Hindari terlalu banyak memakan makanan yang mengandung karbohidrat, seperti permen atau makanan bertepung yang sisanya dapat melekat pada gigi.
7. Hindari penggunaan pasta gigi yang unsur fluoridenya terlalu rendah atau pun terlalu tinggi. Terlalu banyak fluoride, bisa mengakibatkan kerusakan gigi dan keracunan.
8. Minumlah air yang mengandung fluor atau mineral.
9. Lakukan pemeriksaan gigi setiap 6 bulan sekali, dan lakukan pembersihan plak dan karang gigi secara rutin.

Pertahankan Keasaman Gigi
Menyikat gigi secara rutin, terang drg. Risqa Rina Darwita, Ph.D., mampu menghindari menumpuknya sisa makanan pada gigi, yang bisa menyebabkan terjadinya plak atau karang gigi – yang bisa menyebabkan gigi lambat laun menjadi keropos. Namun, Risqa juga menganjurkan untuk tidak terlalu cepat menggosok gigi setelah kita mengkonsumsi makanan.

“Mulut kita, sebenarnya membutuhkan keasaman (pH) tertentu, yaitu pH 7,” terangnya. Pada saat mulut kita mengunyah makanan, pH di dalam mulut lambat laun akan turun hingga mencapai pH kritis, yaitu 5,5. “Untuk mencapai pH yang normal, memerlukan waktu hingga mencapai 20-30 menit. “Bila kita terlalu sering ngemil, maka lambat laun gigi akan mudah keropos. Hal ini disebabkan oleh keasaman di dalam mulut, yang tidak normal.”

Begitu juga pada anak-anak yang langsung menggosok gigi sehabis makan, karena saat kita menggosok gigi keasaman dalam mulut pun menurun. “Oleh sebab itu sebaiknya kita baru menggosok gigi, sekitar 20-30 menit setelah makan. Sehingga pH gigi pun, bisa tetap terjaga. “Saya menyarankan untuk lebih banyak berkumur dari pada menggosok gigi, sebab umumnya kita menggosok gigi dengan menggunakan pasta gigi,” sarannya.

Pasta gigi, meski mengandung fluoride yang dibutuhkan gigi, namun juga mengandung deterjen (terlihat pada efek busa saat menggosok gigi). Padahal, deterjen tersebut juga tidak baik pengaruhnya pada gigi. “Dengan berkumur, sebenarnya kotoran dan sisa-sisa makanan pada gigi sudah terbuang. Atau kita juga bisa menyikat gigi dengan sikat gigi, tanpa harus menggunakan pasta gigi terlalu sering.”

 

 

  • | About APOTEKROXY.COM | webmaster IT Dept | Artikel Deni Wardani
    @ 2010 - 2014 APOTEKROXY.COM - All rights reserved